Blog Archive

Penemuan baru Alat untuk Bercocok tanam

I Wayan Rio, Ketua KTNA Kabupaten Gianyar, Bali
Meningkatkan SDM Kelompok Tani Melalui Program Magang

Sebagai kelompok swakarsa, keberadaan KTNA Gianyar, dirasakan sangat membantu tugas dari Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten maupun program yang dibuat oleh Pemda Kabupaten Gianyar dalam upaya pengembangan sektor pertanian, khususnya dalam memberikan penyuluhan kepada para petani. Anggota kelompok tani merupakan para petani yang berprestasi dan mempunyai andil di daerahnya masing-masing.

”Masyarakat di Kabupaten Gianyar yang terjun di sektor pertanian selama ini merupakan petani “terselubung”, karena mereka juga mempunyai kesibukan di sektor kerajinan”, kata I Wayan Rio, Ketua KTNA Kabupaten Gianyar, Bali. Jumlah kelompok tani dan nelayan yang ada di Kabupaten Gianyar, mencapai 565 kelompok, dengan setiap kelompoknya mempunyai anggota sebanyak 25 s/d 30 orang.

Berdasarkan Road Map hasil kerjasama antara KTNA Gianyar dengan Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud) Bali, sektor pertanian di Kabupaten Gianyar terbagi menjadi 3 prioritas yaitu untuk zona atas, tengah dan bawah. Untuk zona atas, diperuntukan untuk kawasan hortikultura dan hutan rakyat (hutan konservasi) yang meliputi Kecamatan Payangan, Tegallalang dan Tampasiring. Untuk zona tengah, diperuntukkan sektor pangan yang meliputi Kecamatan Ubud, dan Sukawati. Sedangkan untuk zona bawah diperuntukkan sektor perikanan atau nelayan yaitu di Kecamatan Gianyar.

Transformasi Teknologi Membantu Petani

Keberadaan KTNA dinilai sangat membantu petani dalam upaya transformasi teknologi pertanian kepada para petani, di samping yang diberikan oleh Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Karena itu, peran KTNA sangat dirasakan kalangan petani dalam rangka pengembangan teknologi dan menyebarkan informasi pertanian, di tengah keterbatasan PPL. Bahkan untuk pengembangan teknologi pertanian, KTNA juga mendapatkan dukungan dari Pemda Kabupaten Gianyar.

Salah satu inovasi yang telah dihasilkan KTNA Gianyar dalam pengembangan teknologi pertanian yaitu penemuan alat untuk bertaman padi dalam bentuk Seder. Dengan alat ini petani tidak perlu lagi menebar bibit padi namun hanya menyimpan bibit padi di alat tersebut, yang digerakkan dengan roda. Dari tiga kali percobaan, hasil produksinya sangat berbeda dengan pola bertanam secara konvensional yaitu 7-8 ton/hektar menjadi 12 ton/hektar, setelah dibersihkan gabahnya mencapai 10 ton/hektar.

Sedar, Biaya Minim
Keunggulan lainnya dengan menggunakan alat Seder, menurut I Wayan Rio, yaitu biaya tanam sangat minim. Untuk satu hektarnya, apabila menanam benih padi menggunakan pola konvensional maka dibutuhkan 10 orang dengan waktu yang diperlukan sekitar 2 hari. Sedangkan dengan menggunakan alat Seder hanya dibutuhkan 1 orang dan waktu diperlukan hanya 1 hari. Bahkan pengembangan teknologi Seder ini juga mendapatkan bantuan dari Badan Pembinaan Standarisasi Bibit (BPSB) untuk dapat disosialisasikan kepada petani. Keunggulan dengan menggunakan seder yaitu jumlah bibit padi untuk ditanam per hektarnya dapat ditekan dari 30 kg/hektar menjadi 15 kg/hektar. Biaya perawatan juga lebih mudah dan kebutuhan pupuk jumlahnya sama dengan menggunakan pola konvensional.

Pemuda Mulai Aktif
Kalangan pemuda di Kabupaten Gianyar, khususnya yang berada di Banjar Kelod Pisang, desa Taro, kini mulai mau berprofesi sebagai petani. Kendati sebelumnya, mereka cenderung susah dan minder apabila harus berprofesi petani. Dari profesi baru itu, hampir sebagian pemuda di desa Taro telah memiliki sapi sebanyak 2 hingga 3 ekor. Selain bertani juga menekuni bidang kerajinan, dan pekerjaan ini dilakoni secara bergantian tanpa meninggalkan profesinya sebagai petani. “Berharap kalangan anak muda yang ada di Kabupaten Gianyar agar tidak selalu mengandalkan sektor pariwisata atau menjadi seorang PNS”, ujar bapak dua orang anak itu.

No comments:

Post a Comment